, ,

Gelorakan Semangat Mutiara Hitam! BDC Serukan “Operasi Penuh Stadion” Dukung Persipura Hadapi Barito Putera

INFO kumurkek- Suara gemuruh kembali menggema dari jantung Kota Jayapura. Menjelang laga panas Persipura Jayapura kontra Barito Putera, Black Danger Community (BDC) Persipura 1963 meluncurkan seruan perang bagi seluruh rakyat Papua. Seruannya jelas: “Padati Stadion Lukas Enembe hingga sesak! Wajib Merah-Hitam!”

Gemuruh Dari Jantung Kota Jayapura Persipura Siap Hadapi Barito Putera
Gemuruh Dari Jantung Kota Jayapura Persipura Siap Hadapi Barito Putera

Baca Juga : Unjuk Rasa Di Boven Digoel Berakhir Ricuh, Tiga Polisi Terluka

Jansen Kareth, sang Ketua BDC, tidak main-main dengan ajakan ini. Baginya, pertandingan ini jauh lebih dari sekadar tiga angka; ini adalah tentang membangkitkan kembali jiwa dan martabat Mutiara Hitam di kandang sendiri.

“Kami menyerukan kepada semua elemen masyarakat, dari Sorong hingga Merauke, untuk bersatu dalam satu komando. Stadion Lukas Enembe harus menjadi lautan merah-hitam yang bergelora. Ini adalah simbol kekuatan sejati kita, identitas yang tidak bisa ditawar, dan kebanggaan yang kita semua panggul bersama untuk Persipura,” tegas Jansen dengan semangat membara.

Setiap Laga adalah Final, Dukungan adalah Nafas

Jansen juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Manajer Persipura, Owen Rahadiyan, yang telah menegaskan filosofi baru tim: setiap pertandingan adalah final.

“Kami sepenuhnya berdiri di belakang pernyataan Pak Owen. Tidak ada lagi laga ‘biasa’. Setiap kali anak-anak Mutiara Hitam melangkah ke lapangan hijau, itu adalah pertaruhan harga diri, itu adalah final yang sesungguhnya. Dan kami, sebagai suporter, adalah pasukan yang akan memberikan mereka napas dan semangat untuk memenangi setiap ‘final’ ini,” ujarnya.

Lebih Dari Sepak Bola, Ini adalah Soal Harga Diri

Bagi sang ketua BDC dan ribuan suporter setia, Persipura bukan sekadar tentang si kulit bundar. Klub ini telah lama menjelma menjadi simbol perjuangan, cerminan identitas, dan kebanggaan kolektif masyarakat Papua di panggung sepak bola nasional.

“Pertandingan melawan Barito Putera ini bukan cuma perebutan puncak klasemen. Ini soal mempertahankan kehormatan, reputasi, dan martabat kita. Setiap tendangan, setiap sundulan, dan setiap teriakan kita dari tribun adalah pernyataan bahwa kami masih ada dan kami pantas untuk dihormati,” tegas Jansen dengan penuh keyakinan.

Duka Masa Lalu, Bahan Bakar untuk Kebangkitan

Gemuruh Kenangan pahit degradasi Persipura ke Liga 2 pada musim 2021/2022 masih membekas dalam dan menjadi cambuk untuk bangkit. Jansen mengingatkan semua pihak tentang perjalanan panjang yang telah dilalui.

“Kita semua masih ingat betapa pedihnya hati kita ketika Persipura harus terdegradasi setelah pertandingan penuh kontroversi. Tapi, lihatlah! Kesetiaan kita tidak pernah luntur. Kita bersama-sama mengawal, mendorong, dan berdoa untuk kebangkitan Mutiara Hitam. Kembali ke Liga 1 bukanlah akhir perjalanan, ini adalah awal dari perebutan tahta yang seharusnya menjadi hak kita,” kenangnya.

Loyalitas Tak Terpudarkan, Perjuangan Sampai Akhir

Sebagai pimpinan dari komunitas suporter terdepan, Jansen menegaskan kembali komitmen yang tak tergoyahkan.

“Jangan pernah meragukan dedikasi dan totalitas kami, Black Danger Community. Tugas kamilah untuk berjuang dari luar lapangan, memberikan dukungan tak bersyarat, sementara para kesatria Mutiara Hitam bertarung di dalam. Kami akan terus maju, berjuang tanpa henti, sampai kejayaan sepenuhnya kembali ke tanah Papua!” serunya lantang.

Akhir Kata: Jadikan Stadion Neraka bagi Lawan!

Jansen menutup pernyataannya dengan seruan yang menggugah setiap jiwa. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk turun langsung ke stadion dan menciptakan atmosfer yang mencekam.

“Mari kita buktikan bersama! Datang, serukan yel-yel, kibarkan bendera, dan jadikan Stadion Lukas Enembe sebagai benteng yang tak tertembus. Kita adalah pasukan ke-12 yang akan memberikan energi tak terhingga bagi pemain kita. Ingat baik-baik, ini adalah rumah kita! Kami melarang tim tamu manapun untuk mencuri poin di sini! Ayo kita dukung Persipura, bukan hanya dengan suara, tapi dengan kehadiran dan jiwa kita!” pungkas Jansen menggelegar.

, ,

Duka di Boven Digoel: Aksi Damai Berubah Ricuh Usai Protes Pembakaran Mahkota Cenderawasih

INFO Kumurkek- Sebuah aksi unjuk rasa yang awalnya berjalan damai berubah menjadi kericuhan di jantung Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan,  Aksi protes yang menyuarakan kekecewaan atas kebijakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua itu berakhir dengan insiden memilukan: tiga anggota polisi terluka dan empat orang warga diamankan sebagai terduga provokator.

Unjuk Rasa Di Boven Digoel Berakhir Ricuh, Tiga Polisi Terluka
Unjuk Rasa Di Boven Digoel Berakhir Ricuh, Tiga Polisi Terluka

Baca Juga : Titik Terang Di Pegunungan Bintang Tewasnya Panglima OPM Akhiri Lima Tahun Catatan Kelam

Akar Masalah: Video Pemusnahan yang Menyulut Emosi

Bibit-bibit protes ini mulai tumbuh setelah sebuah video viral di kalangan masyarakat. Video tersebut memperlihatkan petugas BBKSDA Provinsi Papua melakukan pemusnahan atau pembakaran sejumlah barang bukti penyitaan, yang didominasi oleh cenderamata berbentuk mahkota burung cenderawasih.

Bagi masyarakat Papua, burung cenderawasih bukan sekadar hewan. Ia adalah simbol budaya, martabat, dan spiritualitas yang sangat sakral. Mahkota yang terbuat dari bulunya sering digunakan dalam upacara adat penting. Oleh karena itu, tindakan membakar barang-barang yang dianggap sebagai representasi nilai-nilai luhur tersebut dirasakan sebagai bentuk penghinaan dan ketidakpedulian terhadap kearifan lokal.

“Insiden bermula dari unjuk rasa damai yang dilakukan masyarakat sebagai bentuk protes terhadap beredarnya video pemusnahan cenderamata berbentuk mahkota cenderawasih oleh pihak BBKSDA Provinsi Papua,” jelas Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, dalam keterangan persnya.

Aksi Damai yang Berubah Menjadi Bentrok

Menurut laporan, demonstrasi awalnya berlangsung tertib dan terkendali. Massa berkumpul untuk menyampaikan aspirasi mereka tanpa insiden. Namun, situasi berubah seratus delapan puluh derajat ketika terjadi kesalahpahaman yang tidak terduga di lokasi.

Ketegangan memuncak, dan suasana yang semula tenang berubah menjadi ricuh. Sebagian massa yang emosional mulai melancarkan serangan. Dalam upaya menenangkan massa dan mencegah situasi semakin memburuk, tiga anggota kepolisian yang bertugas menjadi korban.

“Mereka terkena anak panah dan senjata tajam saat berupaya menenangkan massa yang sudah mulai tidak terkendali,” tutur Cahyo. Ketiga anggota tersebut segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Penanganan Pasca-Ricuh dan Pemeriksaan Provokator

Guna mengamankan situasi dan mencegah meluasnya kerusuhan, aparat kepolisian dari Polres Boven Digoel mengambil tindakan tegas. Sebanyak empat orang yang diduga kuat menjadi provokator dan memicu kericuhan telah diamankan.

“Keempat orang terduga provokator telah diamankan oleh Polres Boven Digoel untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengungkap motif dan keterlibatan mereka dalam insiden ini,” tegas Cahyo.

Pihak kepolisian kini tengah mendalami kasus ini dari dua sisi. Di satu sisi, mereka menyelidiki oknum-oknum yang didalangi kericuhan dan penyerangan terhadap aparat. Di sisi lain, mereka juga berusaha memahami akar permasalahan, yaitu kekecewaan mendalam masyarakat terhadap kebijakan BBKSDA.

Lebih Dari Sekedar Kericuhan: Sebuah Pelajaran Bersama

Insiden di Boven Digoel ini lebih dari sekadar statistik kerusuhan. Ia adalah cermin dari persilangan sensitif antara penegakan hukum konservasi dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya. Peristiwa ini menyisakan pertanyaan mendasar: bagaimana seharusnya kebijakan konservasi diterapkan tanpa melukai hati dan merendahkan warisan budaya yang telah hidup turun-temurun?

Kedepan, dibutuhkan pendekatan yang lebih komunikatif, edukatif, dan partisipatif dari semua pihak. Dialog yang melibatkan pemerintah daerah, tokoh adat, masyarakat, dan instansi seperti BBKSDA menjadi kunci untuk mencegah terulangnya duka seperti ini di tanah Papua.

Merespons Insiden, Tuntutan Masyarakat Menjadi Sorotan

Selanjutnya, komunitas adat dan tokoh pemuda setempat mulai menyuarakan tuntutan mereka secara lebih jelas. Mereka tidak hanya meminta pertanggungjawaban atas insiden pembakaran mahkota, tetapi juga mendesak adanya reformasi dalam kebijakan konservasi. Sebagai contoh, mereka mengusulkan agar barang bukti sitaan yang memiliki nilai budaya tinggi tidak dimusnahkan, melainkan diserahkan kepada museum atau lembaga adat untuk tujuan edukasi.

Di sisi lain, pihak BBKSDA Papua akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Kepala BBKSDA Papua menjelaskan bahwa pemusnahan barang bukti tersebut merupakan prosedur standar untuk barang ilegal. Meski demikian, ia mengakui bahwa pihaknya mungkin kurang melakukan sosialisasi yang memadai. “Kami tentu saja menghormati nilai-nilai budaya. Oleh karena itu, ke depan, kami akan membuka ruang dialog dan mengevaluasi metode penanganan barang bukti yang bernilai budaya,” ujarnya.

Selain itu, kondisi ketiga polisi yang terluka semakin membaik

Tim medis melaporkan bahwa mereka telah menjalani operasi dan kini dalam masa pemulihan. Sementara itu, pemeriksaan terhadap keempat tersangka provokator masih berlangsung intensif. Penyidik tengah mengidentifikasi apakah ada unsur perencanaan di balik kericuhan tersebut atau murni aksi spontan akibat emosi massa.

Kemudian, untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, Kapolda Papua memerintahkan jajarannya untuk meningkatkan pendekatan humanis. Misalnya, polisi mulai berkoordinasi dengan para tetua adat untuk menenangkan situasi dan membangun jalur komunikasi yang lebih baik dengan para pemuda. Hasilnya, suasana di Tanah Merah perlahan mulai mereda, meskipun nuansa duka dan kekecewaan masih terasa.

Kesimpulannya, insiden Boven Digoel ini memberikan pelajaran berharga bagi semua pemangku kepentingan. Pada akhirnya, membangun kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat adat merupakan fondasi yang tidak boleh diabaikan. Dengan demikian, penyelesaian konflik yang berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui rasa saling menghargai antara hukum nasional dan kearifan lokal.

, ,

Akhir Riwayat Kelam Lamek Alipky: Mengungkap Jejak 5 Tahun Teror Panglima OPM di Papua Pegunungan

INFO Kumurkek- Sebuah babak kelam dalam keamanan dan ketertiban di wilayah Pegunungan Bintang akhirnya menemui titik terang. Lamek Alipky Taplo, seorang bos atau Panglima Organisasi Papua Merdeka OPM yang paling dicari, tewas dalam operasi penembakan yang dilakukan oleh prajurit TNI. Kematiannya bukan sekadar buntut dari baku tembak, melainkan penutup dari sebuah catatan panjang aksi kekerasan yang telah menebar teror, menghambat pembangunan, dan merenggut nyawa warga tak bersalah selama lima tahun terakhir.

Titik Terang Di Pegunungan Bintang Tewasnya Panglima OPM Akhiri Lima Tahun Catatan Kelam
Titik Terang Di Pegunungan Bintang Tewasnya Panglima OPM Akhiri Lima Tahun Catatan Kelam

Baca Juga : Penghormatan Terakhir Negara Untuk Prajurit Gugur Mimpi Lettu Fauzy Dijanjikan Ditepati

Lamek Alipky, yang menjabat sebagai Panglima Kodap XV Ngalum Kupel, digambarkan oleh pihak berwenang sebagai salah satu pimpinan OPM paling aktif dan radikal di wilayah tersebut. Kiprahnya yang penuh kekerasan telah meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat dan pembangunan di tanah Papua.

Wajah Radikal dan Jejak Kekerasan yang Terstruktur

Melalui keterangan resmi dari Asintelter Koops Swasembada Papua, Letkol Inf Renaldy H., terkuaklah sederet aksi kriminal yang didalangi Lamek dan kelompoknya. Rentetan kejahatan ini bukanlah insiden spontan, melainkan aksi terstruktur yang menargetkan simbol-simbol negara, fasilitas publik, dan kemanusiaan.

“Lamek Alipky adalah otak di balik berbagai serangan yang sangat meresahkan. Kelompoknya secara sistematis menyerang aparat, mengganggu proyek pembangunan, dan membakar fasilitas-fasilitas vital yang seharusnya menjadi nadi kehidupan masyarakat,” ujar Letkol Renaldy.

Kronologi Kekejaman: Dari Pembakaran Hingga Pembunuhan

Berikut adalah rangkuman detail aksi-aksi yang mencoreng wajah kemanusiaan selama lima tahun kepemimpinan Lamek Alipky:

  1. Awal Teror (2 Maret 2020): Kelompok Lamek menyerang pekerja proyek Jalan Trans Papua. Aksi ini bukan hanya mengancam jiwa para pekerja, tetapi juga upaya nyata untuk memutus akses dan isolasi wilayah Pegunungan Bintang dari pembangunan.

  2. Peningkatan Intensitas (28 Mei 2021): Mereka berani merampas senjata api dari Pos Polisi (Pospol) Subsektor Oksamol. Aksi ini menunjukkan peningkatan kapasitas persenjataan dan level ancaman yang mereka bawakan.

  3. Tragedi Kemanusiaan (13 September 2021): Hari kelam bagi dunia kesehatan di Papua. Kelompok ini melancarkan serangan multi-pronged: menyerang Satgas Pamtas 403/WP, membakar Puskesmas Kiwirok, dan yang paling memilukan, melakukan pembunuhan terhadap tenaga kesehatan. Aksi ini mencabik-cabik nilai kemanusiaan dan merampas hak warga untuk mendapat layanan kesehatan.

  4. Ancaman di Udara  Pesawat Smart Aviation menjadi sasaran tembakan. Serangan ini memperlihatkan pola ancaman yang tidak lagi terbatas di darat, tetapi juga terhadap transportasi udara yang merupakan urat nadi logistik dan mobilitas di Papua.

  5. Penghancuran Masa Depan (Desember 2021): Sekolah-sekolah dan fasilitas umum di Kiwirok dan Serambakon dibakar. Tindakan ini merupakan serangan terhadap masa depan anak-anak Papua, merampas tempat mereka menuntut ilmu dan mengakses layanan dasar.

  6. Teror Berkelanjutan (2022-2025): Selama tiga tahun ini, kelompok Lamek terus aktif menyerang aparat TNI-Polri di berbagai titik, menciptakan situasi yang terus-menerus mencekam dan tidak stabil.

  7. Pelanggaran Batas (Oktober 2025): Mereka melakukan penembakan terhadap helikopter yang membawa bantuan kemanusiaan. Aksi ini dinilai telah melampaui batas, karena menargetkan bantuan untuk masyarakat yang justru mereka klaim perjuangkan.

  8. Puncak Penghancuran (Oktober 2025): Dalam rentang waktu yang sama, mereka kembali membakar sekolah, gereja, dan Puskesmas di Distrik Kiwirok. Pembakaran gereja khususnya, menambah dimensi baru dalam kekerasan yang mereka lakukan.

Dampak yang Ditinggalkan: Nyawa Melayang dan Pembangunan Terkubur

Letkol Renaldy menyebutkan, rentetan aksi sadis tersebut telah menelan korban jiwa yang tidak sedikit. “Tercatat 6 nyawa melayang dan 8 lainnya luka-luka berat akibat kekerasan kelompok ini,” tegasnya.

Kerugian materiil juga sangat besar. Sebanyak 7 bangunan fasilitas umum hancur dilalap api, disusul dengan 6 unit alat berat yang dibakar. Aksi-aksi ini bukan hanya merusak properti, tetapi secara sengaja menghambat pelayanan publik dan memundurkan pembangunan di wilayah Kiwirok selama bertahun-tahun.

Akhir Sang Panglima di Medan Operasi

Operasi penegakan hukum yang dilakukan oleh personel Komando Operasi Swasembada Papua akhirnya mengakhiri riwayat Lamek Alipky. Dalam sebuah serangan yang dilancarkan di markasnya di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Lamek tewas bersama tiga anggota OPM lainnya.

“Komando Operasi Swasembada Papua memastikan bahwa Panglima Kodap XV Ngalum Kupel, Lamek Alipky Taplo, tewas bersama 3 OPM lainnya. Mereka tewas dalam operasi penyerangan yang dilaksanakan oleh personel TNI,” kata Letkol Renaldy mengonfirmasi.

Titik Terang Sebagai bukti, aparat juga merilis foto-foto Lamek Alipky. Dalam salah satu foto, ia terlihat dengan penuh percaya diri mengenakan seragam loreng, baret merah, dan selendang bermotif Bintang Kejora. Sebuah bendera dengan motif yang sama terpampang di sampingnya, mempertegas identitas kelompoknya. Foto lain yang tak kanyak mencolok menunjukkan Lamek dalam kaos hitam, memegang benda yang menyerupai granat dan drone, menggambarkan kemampuan teknis dan persenjataan yang dimilikinya.

Dengan tewasnya Lamek Alipky, diharapkan tercipta ketenangan dan ruang bagi pemulihan di Kiwirok. “Setelah operasi tersebut dilaksanakan, situasi di Distrik Kiwirok berangsur kondusif,” pungkas Renaldy, memberikan secercah harapan bagi masyarakat yang telah lama hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

, ,

Menhan Wujudkan Mimpi Abadi Lettu Fauzi: Orang Tua Diantar Umrah, Adik Dijamin Masuk Perwira TNI

INFO Kumurkek- Kabar duka yang menyentuh dari Bumi Batara Guru, Pangkep, Sulawesi Selatan, berubah menjadi sebuah kisah tentang penghormatan dan janji yang ditepati. Dengan penuh keteguhan hati, Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Sjafrie Sjamsoeddin, secara langsung menyampaikan komitmen negara untuk mewujudkan mimpi terakhir salah satu prajurit terbaiknya, Lettu Anumerta Fauzy Ahmad, yang gugur dalam kontak tembak dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Penghormatan Terakhir Negara Untuk Prajurit Gugur Mimpi Lettu Fauzy Dijanjikan Ditepati
Penghormatan Terakhir Negara Untuk Prajurit Gugur Mimpi Lettu Fauzy Dijanjikan Ditepati

Baca Juga : Prestasi Membanggakan, Tim Tanggap Darurat Astra Motor Papua Raih Peringkat 10 Besar CAA 2025

Kunjungan duka Menhan Sjafrie ke kediaman almarhum bukan sekadar formalitas. Dalam suasana haru, ia menyampaikan kabar yang menghangatkan hati: negara akan memberangkatkan kedua orang tua Lettu Fauzy untuk menunaikan ibadah umrah. Keberangkatan suci ini merupakan sebuah janji yang sempat diucapkan Fauzy kepada orang tuanya sebelum ia gugur di medan tugas. Kini, negara yang akan mengambil alih dan menanggung seluruh biaya perjalanan spiritual tersebut, mengantarkan doa orang tua untuk sang pahlawan di Tanah Suci.

“Harapan almarhum untuk memberikan kesempatan ibadah kepada kedua orang tuanya, akan diambil alih oleh negara dan akan dibantu sepenuhnya,” tegas Sjafrie dengan penuh keyakinan di hadapan keluarga yang berduka.

Namun, perhatian negara tidak berhenti di situ. Sebagai bentuk penghargaan tertinggi atas pengorbanannya, Lettu Fauzy dianugerahi kenaikan pangkat anumerta dari Letda menjadi Lettu. Lebih dari itu, negara juga memastikan masa depan adik-adik almarhum akan terjamin. Menhan Sjafrie menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi dan mempersiapkan adik-adik Fauzy yang ingin meneruskan perjuangan kakaknya.

“Kami akan mengatur, mempersiapkan mereka untuk masuk pada saat nanti lulus, akan menjadi sekolah perwira bagi mereka,” ucap Sjafrie. Langkah nyata ini menunjukkan bahwa pengabdian seorang prajurit tidak pernah terlupakan, dan keluarga yang ditinggalkan akan terus mendapat perhatian.

Dalam kunjungannya itu, Menhan Sjafrie juga menyampaikan salam dan pesan penghiburan dari Presiden RI, Prabowo Subianto

Presiden meminta keluarga besar Fauzy untuk tetap tawakal dan sabar menghadapi ujian berat ini. “Saya juga menyampaikan salam dari Presiden… Jadi memang negara harus hadir untuk memberikan perhatian kepada prajurit dan keluarganya,” tandas Sjafrie, menegaskan prinsip kehadiran negara bagi para penjaga bangsa.

Sjafrie juga membagikan kenangan tentang Lettu Fauzy yang ia dapat dari Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Windiyatno. Menurutnya, Windiyatno yang pernah menjadi pengasuh Fauzy semasa ia menjadi taruna, menyebut almarhum sebagai “prajurit terbaik dengan kemampuan khusus”. Potensi besar itu sayangnya harus terpenggal oleh takdir, namun pengabdian dan jasanya akan tetap abadi dalam kenangan bangsa.

Lettu Anumerta Fauzy Ahmad, anggota Satgas Pamtas Statis RI-PNG Yonif 753/AVT, akhirnya dimakamkan dengan penuh penghormatan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Mangilu, Pangkep. Meski raganya telah pergi, semangat dan mimpinya terus hidup. Melalui langkah-langkah nyata yang diumumkan oleh Menhan ini, Indonesia menunjukkan bahwa seorang pahlawan tidak hanya dikenang, tetapi juga impiannya diteruskan, dan keluarganya dijaga oleh bangsa yang ia bela. Sebuah teladan bahwa pengorbanan tulus seorang prajurit akan berbalas kasih yang setulusnya dari negara.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI kini bergerak cepat untuk merealisasikan seluruh janji tersebut. Tak lama setelah kunjungan itu, tim khusus mulai mengurus dokumen dan persiapan perjalanan umrah untuk kedua orang tua almarhum. Secara paralel, proses administratif untuk kenaikan pangkat anumerta juga telah resmi berjalan, memberikan pengakuan tertinggi atas pengabdian terakhirnya.

Sementara itu, bagi adik-adik almarhum, sebuah jalur pembinaan khusus telah dirancang

Institusi pendidikan TNI, sebagai contoh, Akademi Militer (Akmil), telah menyiapkan program bimbingan intensif. Program ini pada dasarnya bertujuan mempersiapkan mereka baik secara akademik maupun fisik untuk mengikuti seleksi penerimaan perwira. Dengan kata lain, negara tidak hanya sekadar menjanjikan, tetapi benar-benar membuka pintu lebar-lebar dan memandu mereka melewatinya.

Di sisi lain, respons positif datang dari berbagai kalangan masyarakat. Tokoh masyarakat setempat, sebagai gambaran, menyambut hangat langkah pemerintah ini. Mereka melihat komitmen ini sebagai akibat dari pengorbanan besar yang telah diberikan Lettu Fauzy. Oleh karena itu, keputusan ini tidak hanya menyentuh hati keluarga, tetapi juga memperkuat rasa nasionalisme dan dukungan kepada TNI.

Pada akhirnya, kisah Lettu Fauzy ini menjadi sebuah legacy. Sebagai hasilnya, pengorbanannya tidak hanya tertutup oleh tanah di TMP Mangilu, melainkan justru melahirkan semangat baru. Singkatnya, tragedi pilu ini berubah menjadi sebuah narasi lengkap tentang pengabdian, penghormatan, dan kelanjutan cita-cita, yang semuanya bergulir karena kehadiran negara yang nyata dan penuh kasih.

, ,

Kabar Gemilang dari Bumi Papua: Astra Motor Papua Raih Puncak Prestasi Keamanan Nasional

INFO Kumurkek Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Astra Motor Papua! Dengan dedikasi dan inovasi yang tak kenal lelah, tim tanggap darurat perusahaan berhasil membawa nama Astra Motor Papua masuk dalam 10 Besar Finalis Corporate Affair Awards (CAA) 2025 untuk kategori bergengsi Astra Security Management System (ASMS) – Security Culture Ownership (People). Pencapaian ini bukan sekadar angka, tetapi bukti nyata komitmen mereka dalam menciptakan benteng keselamatan yang hidup dan bernapas dalam setiap aktivitas karyawan.

Prestasi Membanggakan, Tim Tanggap Darurat Astra Motor Papua Raih Peringkat 10 Besar CAA 2025
Prestasi Membanggakan, Tim Tanggap Darurat Astra Motor Papua Raih Peringkat 10 Besar CAA 2025

Baca Juga : Perjalanan Damai Berakhir Tragis, Satu Nyawa Warga Sipil Jadi Korban Kekerasan Di Nabire

Dari Prosedur Menjadi Budaya: Sebuah Evolusi Kesadaran

Thomas Pradu, Region Head Astra Motor Papua, dengan penuh kebanggaan memaparkan bahwa kunci kesuksesan ini terletak pada pendekatan yang transformatif. Inovasi yang diusung tidak berhenti pada pembaruan sistem, tetapi fokus pada pembentukan budaya siaga dan keselamatan yang meresap dalam DNA setiap insan Astra Motor Papua.

“Proyek ini adalah buah dari pengembangan berkelanjutan sejak tahun sebelumnya. Kami tidak hanya membangun sistem, tetapi lebih kepada memupuk perilaku, kepedulian, dan partisipasi aktif seluruh karyawan. Keamanan dan kesiapsiagaan darurat telah berubah dari sekadar aturan menjadi nilai bersama,” ujar Thomas melalui siaran pers.

Ia menambahkan, “Tentu kami sangat bangga bisa bersaing dan unggul di antara perusahaan-perusahaan Astra terbaik se-Indonesia. Pencapaian ini adalah bukti nyata bahwa semangat budaya siaga telah menjadi napas keseharian tim kami di Papua. Bagi kami, keamanan bukan lagi sekadar manual prosedur, tetapi telah menjadi kebiasaan yang tumbuh subur dari kesadaran dan kepedulian kolektif.”

Strategi Jitu: Melampaui Teori, Menyentuh Hati Nurani

Lantas, bagaimana cara Astra Motor Papua menanamkan budaya ini? Melalui pendekatan yang kreatif dan langsung menyentuh lapisan kesadaran tertinggi. Tim andalan SAR, yang terdiri dari Supriyadi, Alfa, dan Romario, merancang program yang menggabungkan:

  1. Simulasi Keadaan Darurat yang Realistis: Latihan tidak lagi bersifat formalitas. Setiap simulasi dirancang sedemikian rupa untuk memberikan pengalaman nyata, membangun insting, dan melatih ketenangan dalam menghadapi krisis.

  2. Edukasi Visual yang Interaktif: Materi keamanan disajikan dengan visual yang menarik dan mudah dipahami, menghindari kesan monoton. Poster, video singkat, dan infografis dipasang di titik-titik strategis untuk terus mengingatkan pentingnya kewaspadaan.

  3. Koordinasi Langsung dengan Instansi Terkait: Kemitraan yang erat dengan pemadam kebakaran, kepolisian, dan instansi keamanan setempat memastikan bahwa protokol yang diterapkan sesuai dengan standar terbaru dan terintegrasi dengan sistem keamanan wilayah.

Keselamatan adalah Cermin Kerjasama Tim yang Solid

“Kesuksesan ini adalah buah dari kerja keras seluruh keluarga besar Astra Motor Papua. Filosofi kami sederhana: kami tidak hanya berinvestasi pada inovasi teknologi tercanggih, tetapi yang terpenting adalah membangun kesadaran manusiawi tentang arti pentingnya keselamatan dan kesiapan. Teknologi hanyalah alat. Keamanan sejati lahir dari budaya yang hidup dalam sanubari setiap individu, bukan dari kewajiban menjalankan prosedur belaka,” tegas Bagas.

Pencapaian Astra Motor Papua sebagai Top 10 Finalis CAA 2025 ini menjadi penanda bahwa komitmen terhadap keselamatan tidak mengenal batas geografis. Dari timur Indonesia, mereka menunjukkan bahwa dengan semangat kolaborasi dan pendekatan yang manusiawi, menciptakan lingkungan kerja yang aman dan tangguh bukanlah sebuah impian, tetapi sebuah kenyataan yang dapat diwujudkan. Selamat untuk prestasi yang gemilang

, ,

Tragedi Berdarah di Nabire: Mobil Warga Dihujani Peluru KKB, Satu Nyawa Melayang dan Empat Korban Luka-Luka

INFO Kumurkek- Sebuah aksi kekerasan yang menewaskan seorang warga sipil kembali meneror Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Sebuah mobil yang tengah melintas dengan damai menjadi sasaran tembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), mengubah perjalanan biasa menjadi scene horor yang merenggut nyawa dan melukai empat orang lainnya.

Perjalanan Damai Berakhir Tragis, Satu Nyawa Warga Sipil Jadi Korban Kekerasan Di Nabire
Perjalanan Damai Berakhir Tragis, Satu Nyawa Warga Sipil Jadi Korban Kekerasan Di Nabire

Baca Juga : Kementrans Luncurkan Gagasan Kolaborasi Internasional Untuk Bangun Kawasan Transmigrasi Papua

Kronologi Insiden Berdarah

Peristiwa tragis ini terjadi di kawasan Kali Semen, Wadio Atas. Menurut laporan dari Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Brigjen Pol. Faizal Rahmadani, satu unit mobil jenis Hilux yang ditumpangi lima orang warga menjadi sasaran empuk kelompok bersenjata pimpinan Aibon Kogoya. Tanpa amaran, mobil tersebut dihujani peluru dari jarak dekat.

Akibatnya sungguh tragis. Masturiyadi (50 tahun), seorang penumpang di dalam mobil, tewas di tempat setelah peluru menembus bagian belakang kepala kanannya. Ia menjadi korban jiwa dalam insiden biadab ini. Tidak hanya satu, empat penumpang lainnya juga turut menjadi korban dan mengalami luka-luka. Mereka adalah Yance Makai (38), Aser Kegou (45), Martinus Makai (42), dan Ari.

Bukti Kekejaman di Medan Tembak

Bukti-bukti di lokasi kejadian menggambarkan betapa brutalnya serangan ini. Kendaraan Hilux yang mereka tumpangi dilaporkan dalam kondisi rusak berat. Badan mobil dipenuhi oleh lubang-lubang bekas tembakan, menjadi saksi bisu betapa intensnya rentetan peluru yang diarahkan kepada warga sipil yang tidak bersenjata. Pemandangan ini semakin mengukuhkan narasi serangan yang tidak manusiawi dan menargetkan masyarakat tak berdosa.

Evakuasi dan Respons Keamanan

Tenaga medis di rumah sakit tersebut langsung bergerak merawat korban-korban luka tembak ini.

Merespons insiden ini, aparat keamanan dari Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Nabire segera turun tangan. Mereka langsung melakukan penyelidikan mendalam dan melancarkan operasi pengejaran terhadap kelompok pelaku yang bertanggung jawab.

Brigjen Faizal Rahmadani menegaskan komitmennya, “Saat ini kami fokus melakukan pengejaran terhadap kelompok pelaku yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut dan memperkuat pengamanan di wilayah Nabire Barat. Kami meningkatkan patroli dan pengawasan di jalur-jalur yang dianggap rawan, karena keamanan masyarakat menjadi prioritas utama Operasi Damai Cartenz.”

Konteks yang Lebih Luas

Insiden di Kali Semen ini bukanlah yang pertama kali terjadi dan semakin menambah daftar panjang kekerasan yang melibatkan KKB di Perjalanan Tanah Papua. Serangan terhadap warga sipil, seperti kasus ini, tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga menebar trauma mendalam dan ketakutan di tengah masyarakat. Aksi-aksi semacam ini secara nyata mengganggu stabilitas dan upaya menciptakan kedamaian di Papua, sekaligus menjadi ujian berat bagi upaya-upaya penyelesaian konflik yang berlangsung. Masyarakat pun berharap agar aparat keamanan dapat segera mengungkap dan menangkap semua pihak yang terlibat, serta memberikan perlindungan maksimal kepada warga.

, ,

Jalin Kolaborasi Global, Kementrans Ajak Mahasiswa dan Akademisi China Wujudkan Papua Sebagai Pusat Pertumbuhan Baru yang Inklusif

INFO Kumurkek- Membuka babak baru dalam pembangunan kawasan transmigrasi, Kementerian Transmigrasi Kementrans secara resmi meluncurkan gagasan kolaborasi internasional yang visioner. Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, secara langsung mengajak para mahasiswa, akademisi, dan pakar dari China untuk turut serta dalam membangun kawasan transmigrasi di Tanah Papua. Ajakan strategis ini disampaikan dalam sebuah kuliah umum yang penuh semangat di hadapan sivitas akademika Central China Normal University (CCNU), Wuhan, yang disambut hangat.

Kementrans Luncurkan Gagasan Kolaborasi Internasional Untuk Bangun Kawasan Transmigrasi Papua
Kementrans Luncurkan Gagasan Kolaborasi Internasional Untuk Bangun Kawasan Transmigrasi Papua

Baca Juga : Kedamaian Malam Dekai Pecah Oleh Teriakan Dan Bau Anyir Darah

Dalam paparannya, Menteri Iftitah menekankan visi besar Pemerintah Indonesia untuk mengubah kawasan transmigrasi tidak lagi sekadar menjadi tempat pemukiman, melainkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan. Papua, dengan kekayaan alam dan potensi budayanya yang melimpah, dipandang sebagai kanvas sempurna untuk mewujudkan visi ini.

Dari seluruh wilayah Indonesia, Papua mewakili sebuah paradoks yang penuh harapan

Di balik gemerlap kekayaan alamnya, tersimpan tantangan untuk memastikan bahwa setiap anak bangsa di sana merasakan sentuhan kemajuan yang merata. Dalam perjalanan ini, kami banyak belajar dari China, sebuah bangsa yang membuktikan bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada integritas dan semangat rakyatnya,” ujar Iftitah, dalam keterangan tertulis yang diterima.

Lebih lanjut, Menteri menyampaikan filosofi mendalam di balik program ini. “Pembangunan di Papua mengajarkan kita satu hal mendasar: bahwa kemanusiaan harus dimulai dari keadilan. Kita mungkin dibedakan oleh bahasa, warna kulit, atau tradisi, tetapi suara hati yang mendambakan keadilan adalah bahasa universal yang sama di mana pun. Oleh karena itu, misi kami adalah menjadikan Papua tidak hanya sebagai permata keindahan alam, tetapi juga sebagai sebuah simbol keindustrian yang inklusif, di mana setiap orang memiliki tempat untuk berkontribusi dan merasakan manfaatnya,” sambungnya dengan penuh keyakinan.

Sebagai langkah konkret, Kementrans mengajak China untuk bersinergi membangun Papua dari berbagai sektor vital, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pengembangan industri di Bumi Cendrawasih. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pembangunan yang holistik.

Dalam konteks inilah, peran universitas-universitas ternama seperti CCNU menjadi sangat sentral

Institusi seperti ini bukan sekadar mengajarkan ilmu dan matematika, melainkan juga menanamkan ‘tujuan’. Anda tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga melahirkan ‘kebijaksanaan’. Anda tidak hanya membangun intelektual, tetapi juga mengukir ‘karakter’, tegas Iftitah, menyoroti peran pendidikan sebagai pilar utama perubahan.

Ia menegaskan bahwa esensi pembangunan sesungguhnya terletak pada pemberdayaan manusia, bukan sekadar pembangunan fisik. “Sumber daya paling berharga bagi suatu bangsa bukanlah emas atau minyak, melainkan modal manusia (human capital). Kekayaan alam akan habis, tetapi kecerdasan, kreativitas, dan semangat rakyat adalah sumber daya yang tak pernah kering,” tambahnya.

Di akhir paparannya, Menteri Iftitah kembali menekankan undangan terbuka ini. “Kami dengan tangan terbuka mengajak China untuk bergabung dalam misi mulia ini—untuk bersama-sama membangun sekolah yang mencerdaskan, rumah sakit yang menyembuhkan, dan industri yang menghormati kearifan lokal serta berkeadilan. Mari bersama kita tuliskan sebuah babak indah untuk Papua; sebuah narasi agung tentang konektivitas, kemajuan, dan peningkatan taraf hidup manusia.

Kolaborasi Nyata: Dari Ruang Kuliah ke Pembangunan Berkelanjutan di Papua

Kementerian Transmigrasi tidak hanya berhenti pada ajakan. Selanjutnya, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skema konkret untuk merealisasikan kolaborasi ini. Sebagai contoh, mereka membuka program magang dan penelitian lapangan bagi mahasiswa CCNU di kawasan transmigrasi Papua. Pada saat yang sama, mereka mengajak para akademisi China untuk berbagi keahlian dalam bidang teknologi pertanian, manajemen sumber daya air, dan energi terbarukan yang sesuai dengan kondisi Papua.

Merespons ajakan ini, Rektor CCNU, Prof. Li Wei, menyampaikan antusiasmenya. “Universitas kami sangat menyambut baik inisiatif strategis ini. Oleh karena itu, kami akan segera membentuk tim tugas khusus untuk menjajaki kemitraan ini. Lebih jauh lagi, kami percaya bahwa keterlibatan langsung mahasiswa dalam proyek pembangunan berkelanjutan ini akan menjadi pengalaman belajar yang tak ternilai,” ujarnya di sela-sela acara.

Di sisi lain, para mahasiswa Indonesia asal Papua yang sedang menempuh pendidikan di China juga menyatakan dukungan. Markus Wenda, salah satu mahasiswa, mengungkapkan, “Ini adalah kabar yang sangat membanggakan. Akibatnya, kami berharap kolaborasi ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi yang lebih penting, juga memberdayakan masyarakat lokal. Dengan kata lain, pembangunan harus melibatkan kami dari awal hingga akhir agar benar-benar tepat sasaran.”

Selain itu, Kementrans juga menekankan pentingnya pendekatan budaya. “Kami akan memastikan bahwa setiap proyek kolaborasi menghormati kearifan lokal. Misalnya, dalam membangun sekolah, desain arsitektur dapat mengadaptasi budaya setempat. Dengan demikian, kemajuan yang kita ciptakan tidak akan mengikis identitas asli masyarakat Papua,” jelas Menteri Iftitah.

, ,

Tragedi di Halaman Suci: Sopir Tewas Ditikam dalam Malam Mencekam oleh KKB di Yahukimo

INFO Kumurkek- Kedamaian malam di Distrik Dekai, Yahukimo, Papua Pegunungan, pecah oleh teriakan dan bau anyir darah. Sebuah peristiwa brutal mengubah halaman Gereja GIDI Siloam, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan kedamaian, menjadi lokasi pembantaian. Bahar bin Saleh (55), seorang sopir taksi pikap berhati lembut asal Makassar, Sulawesi Selatan, harus meregang nyawa setelah diserang dan ditikam secara keji oleh sekelompok orang yang diduga Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Kedamaian Malam Dekai Pecah Oleh Teriakan Dan Bau Anyir Darah
Kedamaian Malam Dekai Pecah Oleh Teriakan Dan Bau Anyir Darah

Baca Juga : Pertemuan Intensif Komisi B Dengan Disnakerindag Dan BPKAD.

Insiden mencekam ini terjadi pada Senin malam, sekitar pukul 20.05 WIT, tepat di depan mata kepala suku setempat yang berusaha—namun gagal—menghentikan amuk para pelaku.

Malam yang Berubah Menjadi Laga Buru

Bahar, yang dikenal sebagai sosok pekerja keras, baru saja mengemudikan pikapnya memasuki halaman gereja di Jalan Poros Logpon Kilometer 4. Saat itu, ia tengah membantu persiapan untuk peresmian Gereja GIDI Siloam yang rencananya akan digelar esok harinya. Udara malam yang tenang tiba-tiba disambar oleh langkah-langkah cepat dan niat jahat.

Menurut penuturan Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, korban sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengintai. “Korban tiba-tiba diserang dari arah jalan masuk. Dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melawan atau bersiap,” ujar Faizal, menggambarkan betapa spontannya serangan itu terjadi.

Dengan sisa tenaga dan naluri bertahan hidup yang kuat, Bahar berusaha menyelamatkan diri. Dia berlari sekuat tenaga menuju bangunan gereja, berharap tembok suci itu dapat memberinya perlindungan. Namun, para pelaku bagai hantu yang tak kenal ampun. Mereka mengejar tanpa henti, mengubah halaman gereja menjadi arena perburuan yang mengerikan.

“Sang pelaku tetap mengejar dan melakukan penikaman berulang kali hingga korban tersungkur tak berdaya,” tutur Faizal dengan nada prihatin. Adegan kekerasan itu terjadi hanya dalam hitungan menit, namun meninggalkan luka yang mendalam bagi semua yang menyaksikan.

Teriakan Sang Kepala Suku yang Tak Diindahkan

Yang membuat tragedi ini semakin memilukan adalah upaya heroik, meski sia-sia, dari seorang kepala suku setempat yang berada di lokasi. Menyaksikan aksi biadab itu, sang kepala suku berteriak sekuat tenaga, mencoba menggunakan wibawa dan statusnya untuk menghentikan pertumpahan darah.

“Dia berteriak, ‘Jangan, saya kepala suku!’,” jelas Faizal Ramadhani. Namun, teriakan yang seharusnya penuh kuasa itu seperti angin lalu bagi para pelaku. Mereka sama sekali tidak mengindahkan, dan terus melanjutkan serangan mematikan mereka, bahkan di area rumah ibadah yang seharusnya dihormati oleh semua pihak.

Fakta ini semakin mengukuhkan sifat brutal dan tak kenal belas kasihan dari para pelaku. Mereka tidak hanya mengabaikan hukum positif, tetapi juga melanggar norma adat dan kesucian tempat ibadah.

Korban Tewas dengan Luka Mengenaskan, Kendaraan Dibakar

Kedamaian Tim gabungan Satgas Operasi Damai Cartenz dan Polres Yahukimo segera bergerak cepat setelah mendapat laporan. Saat tiba di lokasi, pemandangan mengerikan sudah menyambut mereka. Bahar bin Saleh terbaring tak bernyawa dengan luka tusuk yang parah di bagian-bagian vital tubuhnya.

Korban sempat dievakuasi ke RSUD Dekai untuk mendapatkan pertolongan medis, namun nyawanya sudah tidak dapat diselamatkan. “Korban dinyatakan meninggal dunia akibat luka tusuk parah di bagian perut, dada, dan kepala,” jelas Faizal.

Tak hanya merenggut nyawa, para pelaku juga melakukan aksi pembakaran terhadap pikap milik korban, seolah ingin menghapus semua jejak dan menambah suasana teror. Pikap yang semula adalah alat mencari nafkah Bahar, hangus menjadi kerangka besi.

KKB Didalangi Pelaku, Aktivitas Gereja Terpaksa Ditunda

Hasil penyelidikan sementara polisi mengarah pada keterlibatan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Adarma, menyatakan bahwa pelaku diduga merupakan bagian dari KKB yang mengaku sebagai Kodap XVI Yahukimo.

“Kelompok ini selama ini aktif melakukan aksinya di wilayah Jalan Poros Logpon KM 4,” tegas Adarma. “Insiden ini menjadi bukti nyata kekejaman kelompok KKB, yang terus menebar aksi kejahatan bersenjata tanpa pandang bulu, termasuk di fasilitas kesehatan, pendidikan, dan tempat ibadah.”

Tragedi ini memaksa jemaat gereja dan panitia untuk menunda peresmian Gereja GIDI Siloam, sebuah acara yang seharusnya penuk sukacita. Kini, gereja tersebut justru menjadi saksi bisu sebuah kejahatan kemanusiaan yang meninggalkan duka mendalam bagi keluarga Bahar, warga sipil, dan seluruh masyarakat yang mendambakan perdamaian di Bumi Cenderawasih.

Pengejaran terhadap para pelaku masih terus dilakukan secara intensif oleh aparat keamanan. Masyarakat berharap, para pelaku yang telah mengotori tempat suci dengan darah ini segera diadili dan dihukum setimpal, sambil berdoa agar tragedi mengerikan seperti ini tidak terulang lagi di masa depan.

, ,

DPRK Jayawijaya Ambil Sikap: Panggil OPD Terkait Soal Harga Pangan dan Keterlambatan Dana Desa

INFO Kumurkek- Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, mengambil langkah tegas untuk menyikapi sejumlah permasalahan yang meresahkan masyarakat. Dalam sebuah pertemuan intensif, komisi ini memanggil dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) kunci, yakni Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian dan Perdagangan (Disnakerindag) serta Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

Pertemuan Intensif Komisi B Dengan Disnakerindag Dan BPKAD
Pertemuan Intensif Komisi B Dengan Disnakerindag Dan BPKAD

Baca Juga : Pola Teror Berulang KKB Kembali Bakar Sekolah Di Kiwirok

Panggilan ini dilakukan guna membahas dua isu krusial yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga: ketidakstabilan harga dan kelangkaan bahan pokok, serta keterlambatan yang signifikan dalam penyaluran Dana Desa (DD).

Harga Bahan Pokok Tak Sesuai dan Tidak Seragam: Disnakerindag Diminta Turun Tangan

Ketua Komisi B DPRK Jayawijaya, Yosep Lokobal, di Wamena, menyoroti praktik kecurangan yang marak terjadi di pasar. Salah satu contoh nyata yang diungkapkannya adalah manipulasi timbangan dan isi pada beras yang seharusnya dijual kepada masyarakat.

“Kami menemukan fakta yang sangat meresahkan di lapangan. Karung beras Bulog yang seharusnya berisi 20 kilogram, ternyata secara nakal dikurangi isinya oleh oknum pedagang menjadi hanya 18 kilogram. Ironisnya, beras yang isinya kurang ini dijual dengan harga yang sama persis seperti beras 20 kilogram. Ini jelas merupakan bentuk penipuan yang sistematis dan merugikan masyarakat,” tegas Yosep Lokobal dengan nada prihatin.

Selain masalah bobot yang tidak jujur, Komisi B juga menemukan ketidaktertiban dalam struktur harga. Harga beras dan bahan pokok lainnya bisa berbeda sangat jauh dari satu kios ke kios lainnya. Hal ini terjadi padahal Disnakerindag sebenarnya telah menetapkan kisaran harga acuan.

“Ketidakserasian harga ini menciptakan distorsi pasar dan kebingungan di kalangan konsumen. Masyarakat bingung, mana harga yang wajar. Atas dasar inilah kami memanggil Disnakerindag untuk mendesak pengawasan di lapangan diperketat secara maksimal,” papar Yosep.

Yosep menegaskan bahwa sikap tegas harus diambil terhadap pedagang yang terus melakukan pelanggaran. “Jika ada pedagang nakal yang masih bandel, dinas harus berani mengambil langkah hukum. Jika perlu, cabut izin usahanya atau tutup tokonya sementara. Cara-cara seperti ini tidak bisa dibiarkan karena yang dirugikan adalah rakyat kecil yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.

BPKAD Diingatkan untuk Percepat DPA Perubahan dan Cairkan Dana Desa

Tidak hanya soal pangan, sorotan Komisi B juga tertuju pada kinerja BPKAD. Yosep Lokobal menyatakan keprihatinannya atas lambatnya proses penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Perubahan, padahal tahun anggaran 2023 telah memasuki masa akhir.

“Kami meminta dengan sangat kepada BPKAD untuk mempercepat proses DPA Perubahan. Waktu yang tersisa hanya sekitar dua bulan. Jika DPA tidak segera dituntaskan, maka penyerapan anggaran untuk seluruh OPD, termasuk Dana Desa, akan terhambat total. Ini akan berakibat pada terhentinya berbagai program dan pembangunan di daerah,” jelas Yosep.

Pertemuan Ia secara khusus menyoroti nasib Dana Desa yang hingga saat ini, Oktober, belum juga dicairkan untuk tahap pertama. Padahal, idealnya pencairan tahap I sudah dilakukan pada bulan Juni atau Juli.

“Masalahnya kompleks. Ada pergantian kepala desa dan bendahara yang baru, yang membutuhkan pembaruan dokumen seperti NPWP dan e-KTP untuk mengubah spesimen tanda tangan di bank. Namun, proses ini tidak boleh menjadi alasan untuk menunda-nunda. Koordinasi harus lebih digiatkan,” ujarnya.

Yosep mengingatkan bahwa waktu yang tersisa sangat sempit. “Setelah tahap I dana desa akhirnya cair, desa harus menyusun Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) terlebih dahulu sebelum bisa mengajukan pencairan tahap II. Pertanyaannya, dalam waktu dua bulan ini, mampukah kedua tahapan krusial ini diselesaikan? Ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar, tidak hanya untuk BPKAD tetapi juga bagi pemerintah desa. Kami mendorong semua pihak untuk bekerja ekstra keras demi kepentingan masyarakat di kampung-kampung,” pungkas Yosep Lokobal menutup pernyataannya.

, ,

Teror di Pegunungan Papua: Gedung SMP Negeri Kiwirok Lagi-Lagi Jadi Korban Pembakaran KKB

INFO Kumurkek- Aksi brutal kelompok kriminal bersenjata (KKB) kembali meneror dunia pendidikan di tanah Papua. Bangunan SMP Negeri Kiwirok di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, untuk kesekian kalinya dilalap si jago merah. Insiden yang terjadi di Desa Sopamikma ini bukanlah yang pertama, menandai sebuah pola teror yang berusaha memutus akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.

Pola Teror Berulang KKB Kembali Bakar Sekolah Di Kiwirok
Pola Teror Berulang KKB Kembali Bakar Sekolah Di Kiwirok

Baca Juga : Insiden Bersenjata Di Papua Tewaskan Dua Prajurit Penjaga Kedaulatan

Berdasarkan konfirmasi dari Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Faizal Ramadhani, pelaku pembakaran adalah KKB yang tergabung dalam Kodap XV pimpinan Ngalum Kupel. “Bangunan lama SMP Negeri Kiwirok dibakar oleh KKB di bawah pimpinan Ngalum Kupel. Ini adalah aksi yang sangat kita kutuk karena menyasar masa depan anak-anak,” ujar Faizal.

Aksi Pembakaran dan Buntut Kontak Senjata

Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa aparat keamanan menyaksikan setidaknya tujuh orang anggota KKB terlibat langsung dalam aksi pembakaran sekolah tersebut. Gedung yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu itu pun tak berdaya dilalap kobaran api, menyisakan kepiluan dan trauma bagi warga.

Merespons laporan tersebut, personel Satgas Operasi Damai Cartenz pun segera bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Namun, situasi justru memanas ketika pasukan berada di ujung Bandara Kiwirok. “Sesaat setelah personel tiba, terdengar satu kali letusan tembakan yang berasal dari arah lokasi pembakaran,” jelas Brigjen Faizal.

Insiden tembak-menembak pun tak terelakkan antara aparat keamanan dan anggota KKB. Dalam baku tembak yang terjadi, tim gabungan berhasil mendesak dan memukul mundur kelompok bersenjata tersebut. Para pelaku dilaporkan melarikan diri menuju arah Kampung Kotobib.

Sejarah Kelam yang Berulang dan Pengejaran Para Terduga

Yang membuat hati miris, ini bukanlah kali pertama SMP Negeri Kiwirok mengalami nasib tragis. Sekolah yang menjadi simbol harapan bagi generasi muda di Pegunungan Bintang ini sebelumnya juga pernah menjadi sasaran pembakaran oleh kelompok yang sama. Pola repetitif ini menunjukkan tantangan keamanan yang kompleks dan upaya sistematis untuk menciptakan ketakutan serta melumpuhkan sektor pendidikan.

Pasca insiden, aparat keamanan telah mengidentifikasi dan memburu setidaknya 16 terduga pelaku yang didalangi oleh Ngalum Kupel. Kelompok ini disebut sebagai otak di balik serangan dan pembakaran yang terjadi. Saat ini, para pelaku masih dalam pelarian setelah melarikan diri dari lokasi kejadian. Operasi pengejaran dan penyelidikan intensif terus dilakukan untuk menangkap dan memproses mereka sesuai hukum yang berlaku.

Insiden ini kembali menyoroti kerentanan wilayah pedalaman Papua dan betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk menegakkan hak dasar anak-anak, yaitu hak untuk memperoleh pendidikan dalam lingkungan yang aman dan nyaman. Pembakaran sekolah bukan hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga membakar harapan dan masa depan para pelajar yang bersekolah di sana.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.