, ,

Gugatan Makar di Makassar: Sidang Perdana Empat Aktivis Papua Barat yang Didakwa Ingin Melepas Diri dari NKRI

Info Kumurkek- Suasana tebak-tebakan menyelimuti Pengadilan Negeri PN Makassar, Sulawesi Selatan. Di balik dinding Ruangan Arifin A Tumpa, empat pria asal Sorong, Papua Barat Daya, menjalani sidang perdana atas dakwaan yang berat: tindak pidana makar dengan tujuan memisahkan Papua Barat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sidang Perdana Empat Pria Asal Sorong Terkait Dakwaan Makar di PN Makassar
Sidang Perdana Empat Pria Asal Sorong Terkait Dakwaan Makar di PN Makassar

Baca Juga : Di tengah Kontroversi, Pramono Anung Akui Sudah Komunikasi dengan DPRD DKI

Keempat terdakwa tersebut adalah Abraham Goram Gaman, Piter Robaha, Maksi Sangkek, dan Nikson May. Mereka merupakan anggota dari kelompok yang menyebut diri Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB), yang sebelumnya dikenal sebagai NRFPB. Sidang yang dimulai sekitar pukul 11.45 WITA ini menjadi sorotan tajam, tidak hanya dari aparat penegak hukum tetapi juga dari para pegiat HAM dan masyarakat.

Dakwaan: Surat, Rapat Rahasia, dan Seragam “Negara”

Dalam pembacaan surat dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) merinci kronologi peristiwa yang berujung pada penangkapan keempatnya. Cerita bermula pada Maret lalu, ketika Abraham Goram Gaman diklaim menerima perintah langsung dari Forkorus Yaboisembut, yang diyakini oleh kelompoknya sebagai “Presiden NFRPB”. Perintahnya adalah mengantarkan surat resmi NFRPB kepada seluruh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di wilayah Sorong Raya.

Surat tersebut bukan sekadar selebaran biasa. JPU menjelaskan bahwa dokumen itu memuat “pernyataan dan klaim politik” yang sangat serius, termasuk ajakan untuk perundingan damai dengan Presiden RI. Yang lebih menohok, surat itu disertai lampiran yang mengisyaratkan struktur kenegaraan lengkap—mulai dari pemerintahan, militer, hingga kepolisian—sebagai bentuk negara tandingan.

Abraham kemudian menggerakkan jaringan. Ia menghubungi Piter Robaha dan Nikson May untuk mengadakan rapat koordinasi di kediamannya pada 10 April 2025. Rapat itu dihadiri sejumlah anggota lain, termasuk Maksi Sangkek. Dalam pertemuan itu, mereka menyusun strategi pengiriman surat yang akan dilakukan secara serentak pada 14 April 2025.

Aksi Pengiriman Surat dan Video Provokatif

Persis seperti rencana, pada tanggal yang ditentukan, aksi pun dimulai. Sebelum berangkat mendatangi kantor-kantor pemerintah, Abraham meminta anaknya untuk merekam sebuah video berdurasi 2 menit 29 detik di halaman rumahnya. Dalam video yang penuh simbol itu, Abraham tampil didampingi oleh “polisi NFRPB” (Piter dan Maksi) dan “tentara NFRPB” (Nikson). Mereka mengenakan seragam biru, baret, dan membawa kartu identitas yang menyerupai atribut kenegaraan.

Video tersebut, yang kemudian diunggah ke Facebook, menunjukkan mereka akan mengantarkan surat “presiden” beserta ajakan perundingan damai. Kelompok itu kemudian beraksi, mendatangi berbagai kantor pemerintahan di Sorong untuk menyerahkan dokumen tersebut.

“Isi surat menunjukkan niatan politik untuk memisahkan wilayah Papua Barat dari NKRI dan mengajak pemerintah pusat untuk melakukan perundingan damai atas nama entitas negara baru,” tegas jaksa dalam dakwaannya.

Penangkapan dan Pasal yang Menanti

Unggahan video itulah yang menjadi awal petaka bagi keempatnya. Warga yang melihatnya melaporkan ke Polresta Sorong Kota. Setelah melalui penyelidikan, pada 28 April 2025, keempatnya resmi ditetapkan sebagai terdakwa, ditangkap, dan kemudian ditahan.

Mereka dijerat dengan pasal-pasal berat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP):

  • Dakwaan Pertama: Pasal 110 ayat (1) juncto Pasal 106 KUHP (makar).

  • Dakwaan Kedua: Pasal 106 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP (menghasut dan menyiapkan makar).

  • Dakwaan Tambahan: Pasal 106 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 53 KUHP (percobaan makar).

Protes dan Tuntutan Pembebasan di Luar Pengadilan

Sidang ini tidak berlangsung dalam ruang hampa. Sebelum sidang dimulai, puluhan mahasiswa asal Papua yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Makassar menggelar unjuk rasa di depan gedung pengadilan. Mereka mengecam proses hukum terhadap keempat terdakwa yang mereka sebut sebagai kriminalisasi aktivis politik Papua.

Andarias Sondegau, Ketua KNPB Wilayah Makassar, menyatakan bahwa aksi menyerahkan surat secara damai tanpa kekerasan seharusnya dilindungi sebagai hak berekspresi dan berpendapat.

“Ditangkap hanya karena menyampaikan aspirasi politik secara damai dengan mendatangi kantor-kantor pemerintah… harusnya dilindungi, bukan justru dikriminalisasi,” tegasnya dalam pernyataan yang dikutip oleh media.

Sidang yang penuh muatan politik ini telah ditunda dan akan dilanjutkan dengan agenda pembacaan eksepsi atau nota keberatan dari para penasihat hukum terdakwa. Perjalanan kasus ini diprediksi akan panjang dan terus mengundang perdebatan sengit antara narasi kedaulatan negara dan hak menentukan nasib sendiri.

, ,

3 Maret 1847: Dunia Menyambut Kelahiran Sang Visioner yang Mengubah Cara Kita Berbicara

Info Kumurkek-   Setiap Kelahiran tanggal 3 Maret, kita mengenang seorang jenius yang suaranya, atau lebih tepatnya, penemuannya yang memungkinkan suara kita terdengar dari seberang benua, lahir ke dunia. Dialah Alexander Graham Bell, seorang pria Skotlandia yang namanya selamanya terukir dalam sejarah sebagai penemu telepon. Namun, kisahnya jauh lebih dalam dari sekadar satu penemuan; ia adalah seorang guru, seorang humanis, dan seorang innovator yang tak kenal lelah, yang hidupnya didedikasikan untuk memecahkan teka-teki suara dan menghubungkan umat manusia.

Kelahiran 3 Maret Pria yang Mengubah Cara Berkomunikasi Dunia Selamanya
Kelahiran 3 Maret Pria yang Mengubah Cara Berkomunikasi Dunia Selamanya

Baca Juga :  Kemenko Polhukam Gandeng Papua Barat Daya Cetak Duta Literasi Digital

Masa Kecil: Benih-benih Jenius di “Athena dari Utara”

Alexander “Aleck” Bell lahir di Edinburgh, Skotlandia, pada 3 Maret 1847. Ia tumbuh di lingkungan yang langka, di kota yang dijuluki “Athena dari Utara” karena kemajuan sains dan seni budayanya. Darah seorang innovator mengalir deras dalam dirinya. Kakek dan ayahnya, Alexander Melville Bell, adalah ahli terkemuka dalam bidang fonetik dan elokusi (seni berbicara). Mereka bahkan mengembangkan “Visible Speech”, sebuah sistem simbol yang dirancang untuk mengajarkan bicara kepada orang tuli.

Ibunya, Eliza Grace Symonds Bell, adalah seorang pianis berbakat yang secara ironis mulai kehilangan pendengarannya ketika Aleck masih muda. Kombinasi unik antara warisan keluarga yang fokus pada mekanika suara dan pengalaman hidup dengan seorang ibu yang tuli inilah yang kelak membentuk jalan hidupnya.

Bakat Bell dalam memecahkan masalah sudah terlihat sejak dini. Pada usia 12 tahun, saat bermain di pabrik penggilingan gandum, ia merasa iba melihat proses pengupasan gandum yang lambat dan melelahkan. Ia pun pulang, merancang sebuah alat dengan dayung berputar dan sikat bulu yang dapat mengupas kulit gandum dengan efisien. Ini adalah penemuannya yang pertama!

Tragedi dan Perjalanan Menuju Dunia Baru

Hidup Bell tidak selalu mudah. Kedua saudara laki-lakinya, Melville dan Edward, meninggal dunia akibat penyakit tuberkulosis. Kesehatan Bell sendiri juga memburuk, sehingga keluarganya memutuskan untuk memulai hidup baru dan pindah ke Brantford, Ontario, Kanada, pada tahun 1870. Udara segar Kanada menyembuhkannya dan memberinya ruang serta ketenangan untuk terus bereksperimen.

Tak lama kemudian, ambisinya membawanya ke Boston, Amerika Serikat. Di sana, ia membuka sekolah untuk guru-guru tunarungu dan meneruskan penelitian ayahnya tentang suara. Karyanya yang brilian menarik perhatian dua investor kunci: Thomas Sanders (yang juga memiliki anak tuli) dan Gardiner Hubbard. Mereka mendanai pekerjaan Bell pada proyek ambisiusnya: Telegraf Harmonik, sebuah alat yang bertujuan mengirimkan beberapa pesan telegraf secara bersamaan melalui satu kabel.

Momen “Eureka!” dan Kelahiran nya Sebuah Revolusi

Bersama asistennya yang setia, Thomas Watson, Bell bekerja tanpa henti di bengkelnya.

Pada tanggal 2 Juni 1875, sebuah kecelakaan kecil mengubah segalanya. Watson tidak sengaja menjentikkan sebuah pegas, dan Bell, yang berada di ruangan lain, mendengar melalui penerimanya getaran suara yang samar dari pegas tersebut. Itu adalah bukti konsep yang ia cari! Getaran suara dapat diubah menjadi arus listrik dan dikirimkan.

Perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil. Pada 7 Maret 1876, Bell diberikan paten nomor 174.465 untuk “Peningkatan dalam Telegrafi” — yang kita kenal sebagai telepon. Tiga hari kemudian, pada 10 Maret, sejarah tercipta. Bell tanpa sengaja menumpahkan asam baterai di celananya dan berterih, “Mr. Watson, come here — I want to see you!” (Tuan Watson, kemarilah — saya ingin bertemu!). Watson yang berada di lantai bawah dengan serta merta mendengar kalimat itu melalui receiver. Itulah panggilan telepon pertama dalam sejarah umat manusia.

Pada 1877, Bell mendirikan Bell Telephone Company, cikal bakal raksasa telekomunikasi AT&T.

Lebih dari Sekadar Telepon: Warisan Seorang Polymath

Meski telepon adalah mahakaryanya, Bell adalah seorang polymath (orang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang) sejati. Pikirannya yang selalu haz akan penemuan melahirkan berbagai inovasi lain, seperti:

  • Photophone: Menciptakan panggilan telepon nirkabel pertama dengan mentransmisikan suara menggunakan seberkas cahaya. Konsep ini adalah dasar dari teknologi fiber optik yang kita gunakan saat ini.

  • Graphophone: Sebuah penyempurnaan dari fonograf Edison yang dapat merekam dan memutar ulang suara pada silinder lilin.

  • Audiometer: Sebuah alat untuk mengukur ketajaman pendengaran, yang sangat membantu dalam mendiagnosis gangguan pendengaran.

Keterlibatannya yang mendalam dengan dunia tunarungu juga tidak pernah pudar. Ia menikahi Mabel Hubbard, seorang muridnya yang tuli dan putri dari investor sekaligus mitranya, Gardiner Hubbard. Bell juga bekerja sama erat dengan Helen Keller, menjadi mentor dan teman yang membantunya berkomunikasi dengan dunia.

Dedikasinya pada ilmu pengetahuan membuatnya mendirikan Laboratorium Volta dan membantu meluncurkan majalah ternama Science. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Presiden National Geographic Society, membentuk majalahnya menjadi seperti yang kita kenal sekarang, penuh dengan foto-foto menakjubkan.

, ,

Dari Sorong untuk Indonesia: Papua Barat Daya Jawara Literasi Digital di Era Siber

Info Kumurkek- Di era di mana batas antara dunia nyata dan digital semakin kabur, ketangguhan sebuah bangsa tidak hanya diukur oleh kekuatan militernya, tetapi juga oleh kekuatan siber warganya. Menyadari hal ini, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (Pemprov PBD) bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Kemenko Polhukam menggelar Sosialisasi Literasi Keamanan Siber dengan tema “Cerdas Beretika, Tangguh Melindungi Data dan Taat Hukum di Ruang Siber” di Kota Sorong. Acara ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah seruan untuk membangun kesadaran kolektif sebagai benteng pertahanan digital Indonesia.

Kemenko Polhukam Gandeng Papua Barat Daya Cetak Duta Literasi Digital
Kemenko Polhukam Gandeng Papua Barat Daya Cetak Duta Literasi Digital

Baca Juga :  Kantor KPU Papua Dikepung Massa, Pendukung Dua Paslon Berebut Klaim Kemenangan

Gardu Depan NKRI, Benteng Pertahanan Digital yang Vital

Acara yang berlangsung penuh semangat ini menghadirkan Asisten Deputi Koordinasi Telekomunikasi dan Informatika Kemenko Polhukam, Marsma TNI Agus Pandu Purnama, sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, Agus menekankan posisi strategis Papua Barat Daya yang tidak hanya sebagai garda terdepan NKRI secara geografis, tetapi juga sebagai garda terdepan di dunia maya.

“Jika benteng siber kita di wilayah ini kokoh, maka segala bentuk ancaman akan tertahan di luar garis pertahanan nasional.

Senjata Kesadaran dan Kompas Moral di Dunia Digital

Agus Pandu Purnama menjelaskan bahwa melindungi diri di ruang digital memerlukan dua senjata utama: kesadaran dan etika. Ini adalah bagian integral dari strategi pertahanan negara modern,” ujarnya.

  • Etika Digital adalah Kompas Moral: Di tengah banjir informasi yang deras, etika berfungsi sebagai kompas yang menuntun kita untuk membedakan yang benar dan salah, menghargai privasi orang lain, dan menyebarkan konten yang positif dan mencerdaskan. “Bijak berdigital adalah cerminan jati diri bangsa yang beradab,” tambahnya.

Sebuah Ajakan untuk Menjadi Duta Perubahan

Agus secara khusus mengajak setiap peserta, yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, untuk menjadi agen perubahan. “Saya harap Bapak dan Ibu tidak hanya pulang membawa catatan, tetapi juga membawa tekad bulat untuk mengubah cara berinteraksi di dunia maya. Jadilah lebih cerdas, lebih bijak, dan lebih beretika,” serunya.

Duta-duta inilah yang nantinya akan menjadi ujung tombak, menyebarluaskan virus kebaikan dan keamanan siber ke keluarga, teman, tetangga, dan hingga ke seluruh penjuru tanah air.

Literasi Digital: Tanggung Jawab Kita Bersama

Kesimpulannya, acara sosialisasi ini menegaskan bahwa literasi keamanan siber adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Membangun ketahanan digital di Papua Barat Daya bukan hanya tentang melindungi warganya, tetapi juga merupakan investasi untuk menjaga kedaulatan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara keseluruhan.

Dengan semangat “Cerdas Beretika, Tangguh Melindungi Data”, Papua Barat Daya siap untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif di dunia digital, tetapi menjadi produsen konten positif dan pelopor keamanan siber untuk Indonesia yang lebih maju dan berdaulat.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.